For the Sake of Love | Chapter One : Kasih Tak Sampai

Oke. Sekarang aku tahu tahap-tahap apa yang orang-orang rasakan setelah putus cinta. Rindu. Aku berada di tahap rindu. Padahal ini baru dua hari setelah kuputuskan cintaku padanya. Pikiranku tak henti-hentinya digaungi oleh namanya.

Pagi ini seperti biasa aku bangun pukul 4:30. Entah itu disebut pagi atau subuh, yang pasti aku dibangunkan oleh alarm-ku jam sekian. Biasanya pagi hari aku langsung beranjak dari kasurku, pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajah, menyikat gigi, memakai krim pagi, berganti pakaian, dan kembali ke kasurku dan membuka laptopku untuk mengecek e-mail atau membaca berita online.

Yep. Rutinitas di subuh hari. Hingga jam lima pagi aku tetap berada di kasurku dan aku lupa bahwa aku sedang putus cinta. Sampai ketika asisten rumah tanggaku datang untuk meminta uang belanja. Aku bertanya hari apa ini, dan ia menjawab ini hari Senin. Kulihat jam menunjukkan pukul lima pagi dan saatnya untuk menyapa kekasihku. Kekasih?

Aku terkaget ketika selama tiga puluh menit terakhir ini ternyata aku masih bermimpi! Maksudku aku masih setengah sadar bahwa aku (belum) resmi sebagai jomblo. Kulihat telepon genggamku dan kubuka chat terakhirku dengannya. Hanya ada satu kata yang kukirim padanya, “thanks“. Shit, pikirku. Jantungku seketika berdebar. Rasanya ingin sekali menyapanya, menyuruhnya untuk solat subuh, dan menunggu balasan menggemaskannya yang sering kali kacau akibat ia belum sepenuhnya terbangun.

Aku terdiam. Secara otomatis tanganku meraih tas kecil yang biasa kugunakan untuk menyimpan uang harian rumah tanggaku. Asisten rumah tanggaku menerima uangnya dan kemudian pergi untuk membuka kandang kucing-kucingku. Lima detik kemudian secara beruntun kucing-kucingku berjalan masuk ke dalam kamarku. Secara perlahan dan lembut jantungku mulai berdetak stabil setelah aku melihat mereka bertiga berjalan masuk dan kemudian saling merebahkan diri di lantai. Mereka sangat lucu dan menenangkan hati.

Aku kembali ke telepon genggamku. Dengan ragu aku menekan tombol dan masuk ke profilnya. Ah. Tidak jadi. Aku tidak akan menyapanya pagi ini. Lebih baik aku kembali mengecek e-mailku. Aku bukan seorang pekerja kantoran, tetapi e-mail yang masuk banyak sekali. Ada tiga rentetan undangan wawancara kerja yang sayang sekali tidak bisa aku penuhi karena aku masih harus kuliah. Mengapa mereka kebanyakan melaksanakan wawancara kerja di hari Kamis atau Jumat? Well, setidaknya itu yang selalu aku terima. Kamis dan Jumat adalah hari krusialku karena dosen-dosen killer ada di dua hari tersebut.

Setelah dua jam penuh aku memfokuskan mataku pada layar laptop, jam delapan pagi aku tertidur. Tidak ada mimpi. Pagi ini aku berhasil mendapatkan tidur yang berkualitas. Dan aku terbangun satu jam kemudian.

Tidak ada kejadian spesial selama jam sembilan pagi hingga ketika aku sedang menonton film di internet, BBM-ku berbunyi. Aku terkaget ketika jam 11:58 dia meninggalkan pesan, “Makan siang jangan lupa ya“. Dengan sontak aku langsung melompat bangun dari kasurku dan aku menggendong Tito, kucingku yang paling kecil. Aku senang sekali ketika akhirnya ia yang menyapaku duluan. Buka, tidak, buka, tidak, buka, tidak. Hati dan otakku saling berkonflik untuk membuka pesannya atau tidak. Hatiku mengatakan untuk membukanya, tetapi otakku berkata tidak. Biarkan semuanya “berjalan dengan sangat natural”. Aku tidak ingin terlihat seakan aku sangat menunggunya pagi ini, tetapi itu memang benar!

Dan otakku yang menang. Aku tidak membalas pesannya hingga jam dua siang. Aku sangat ingin mengatakan “I love you” tetapi kurasa itu sangat memalukan! Aku tidak habis pikir bahwa wanita secuek diriku bisa merasa malu, bahkan itu pada kekasihku sendiri. Entahlah, aku merasa sangat rapuh kali ini. Aku hanya butuh inisiatif darinya untuk menyapaku duluan.

Sudah dua hari ini aku memang memanggilnya duluan. Dan ia selalu membalas pesanku. Sebenarnya aku hanya ingin berkata, “I still love you“, namun itu sangat berat. Jari-jariku mendadak kaku dan aku hanya bisa meremas telepon genggamku. Kuharap ia juga merasakan hal yang sama karena ini sangatlah lucu, ketika ia hanya bisa memandang layar handphone-nya dan bingung harus memulai dengan kalimat apa, dan pada akhirnya mengurungkan niat dan memaksakan diri untuk melanjutkan pekerjaannya. Ini mungkin yang bisa disebut sebagai “kasih tak sampai“.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s