For the Sake of Love : Chapter Zero

Kalian tahu apa yang kurasakan saat ini? Penyesalan. Entah apa yang terjadi semalam antara aku dan dia membuat dadaku nyeri. Aku tidak mengingat apa yang telah aku katakan padanya, sampai ketika aku membaca kembali percakapan di Blackberry Messenger-ku dengannya. Dan aku menangis.

Ada apa denganku? Mulutku benar-benar pedas. Aku menuduhnya sebagai munafik, orang yang kejam, pembohong, dan sebagainya. Aku tidak ingat kapan ia mengataiku dengan istilah yang tidak baik. Mungkin memang ia tidak pernah mengataiku dengan istilah yang tidak baik.

Aku cinta padanya. Sangat cinta padanya. Pagi ini kupikir aku bisa memulai hari tanpa ada dia di pikiranku, tetapi itu salah. Sembilan puluh persen otakku dipenuhi dengan wajahnya. Hampir tiap lima menit sekali aku meratapi nasibku yang tidak bisa menyapanya hari Minggu ini dengan ceria dan semangat. Sekali-kali kucoba menutup mataku dan berharap saat kubuka mataku, wajahnya menghilang. Tetapi aku malah ketiduran dan yang terjadi adalah aku memimpikannya.

Ia memakai kaos hitamnya, rambut cepak jambulnya, posturnya yang ramping, kulitnya yang putih kekuningan, mata coklatnya yang bulat dan berbinar, dan senyumnya yang dipenuhi dengan gigi-giginya yang rapi. Senyumnya mendominasi mimpiku. Suaranya yang tinggi dan lembut memanggilku, “Ratu?”

Kami berada di sebuah rumah. Tidak berperabot, hanya bangunan dan kami. Aku duduk di lantai dan menyandar di dinding, sedangkan ia duduk di tengah-tengah ruangan. Ia sedang mengisi Teka-Teki Silang dari sebuah koran harian dengan penuh konsentrasi, sambil sesekali menanyakan jawaban yang ia tidak tahu. Aku mulai bosan dan aku mendekatinya. Seketika itu pula semuanya berubah.

Aku dan dia duduk di tengah-tengah rumahku. Di sekelilingku banyak orang-orang terkedekatku dan dia. Ada ayahku, bibiku, adikku, ibunya, adik perempuannya beserta kekasihnya, ada sepupunya, dan ada kucing-kucingku. Suasananya sangat bising dan sibuk. Mereka semua saling berbicara tetapi bukan kepada atau dengan siapa. Mereka seperti berbicara sendiri, sibuk sendiri. Hanya aku dan dia yang berbincang satu sama lain dan aku lupa apa yang kami perbincangkan. Aku hanya ingat aku tertawa, ia tersenyum, dan ia mengecup keningku, kemudian kami bangkit dan berjalan ke luar rumah. Seketika itu juga semuanya berubah.

Aku berada di pinggir pantai. Sendirian. Kulihat ia berenang di tengah lautan. Dan kulihat ada seorang wanita yang mendampinginya. Ternyata itu adalah mantan kekasihnya. Aku lupa siapa, tetapi aku yakin dia adalah mantan kekasihnya. Mereka saling telanjang. Aku tidak menangis. Aku hanya termenung melihat mereka berenang semakin jauh dan jauh. Dan tiba-tiba adik perempuannya berdiri di sebelahku. Rambutnya hitam, lurus, dan panjang tertiup angin laut. Ia menepuk pundakku dan ia berkata, “Tunggulah sampai matahari terbenam dan air mulai pasang. Lihat siapa yang datang padamu, dia atau teman barumu.” Dan ia berlari pergi. Seketika itu juga semuanya berubah.

Aku terbangun. Mataku berat sekali untuk dibuka. Ternyata ada banyak air mata yang mengering di mataku sehingga mataku lengket tertutup. Cepat-cepat aku ke kamar mandi dan membersihkan mataku dengan air, dan aku berkaca. Mataku sembab. Aku mulai bertanya-tanya. Mimpi aneh apa yang semalam kualami. Aku ingat kalimat adik perempuannya yang menjadi kalimat akhir dari perjalanan mimpiku. Teman baruku? Siapa dia?

Hingga detik ini aku masih bertanya-tanya. Aku mencoba untuk tidak mempercayai mimpiku karena itu hanyalah mimpi. Itu tidak nyata. Itu hanyalah halusinasi. Aku masih mencintainya dan aku tidak ingin melepaskannya dari hidupku.

Aku menyesal telah memutuskan tali kasih dengannya. Aku tahu ia merasa sedih dan terpukul. Aku juga sedih dan terpukul. Aku merasa sakit hati karena ia telah “menjebakku” dengan pernyataannya. Kisahnya panjang, aku tidak akan menceritakannya. Tetapi aku hanya emosi sesaat. Aku memutuskan sepihak. Dan pagi ini aku menyesal. Sangat menyesal. Apa yang harus aku lakukan untuk membayar penyesalanku? Apakah ia masih mencintaku? Aku tak ingin semua ini berakhir dengan terlalu cepat. Bulan depan adalah perayaan satu tahun hari jadian kami untuk pertama kalinya. Aku sangat semangat untuk merayakannya, tetapi karena aku telah memutuskan hubunganku dengannya, semua itu hanya tinggal harapan. Aku berharap ia mau menerimaku lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s